Jeratan Tagihan Kartu Kredit Luar Biasa

17 12 2010

Untuk pertama kali sejak memiliki kartu kredit 5 tahun lalu, Bastian 32, terpaksa tidak bisa membayar seluruh utang yang jatuh tempo pada 11 Februari. Dari tagihan Rp 3 juta, hanya tersedia dana untuk membayar sebesar Rp 1,4 juta.

Dia semula berpikir sisa tagihan sebesar Rp 1,6 juta itu dilunasi bulan depan dan kalaupun kena bunga tidak terlalu besar. Dalam hitungan awam, dengan bunga kartu kredit 3,25% per bulan, hanya perlu tambahan tagihan extra 3,25% x Rp 1,6 juta, yaitu Rp 51.500, pada tagihan berikutnya.

Betapa kagetnya Bastian, saat memperoleh tagihan bulan berikutnya, tertera tagihan bunga sebasar Rp 151.800. Dari mana hitungan itu berasal?

Dia pun menelepon customer servis BCA, asal kartu itu diterbitkan. Perempuan diseberang , bernama Rubby, menjawab rincian perhitungan bunga akan dikirim dalam 7 hari kerja.

Bastian sebenarnya ingin protes. Namun sudahlah, sambil menunggu perincian itu datang, dia mempelajari lampiran kartu baru berpengaman chip dari BCA yang dikirim pekan lalu.

BCA memberikan tiga perhitungan bunga pembelanjaan.
Pertama, simulasi pembayaran minimum. Sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia adalah 10% dari total tagihan.
Kedua, perhitungan bila tidak membayar. Ketiga, bila membayar bunga setelah jatuh tempo.

Dari simulasi pertama terungkap selain mengenakan bunga dalam hitungan hari untuk setiap tagihan yang tersisa, bank juga menghitung bunga dari hari bergulir hingga tagihan bulan berikutnya.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan cara mereka menghitung.

Seorang nasabah dengan tagihan Rp 2,5 juta berasal dari transaksi 1 Maret sebesar Rp 1 juta dan 5 Maret sebesar 1,5 juta pada saat jatuh tempo 15 April hanya bayar minimum Rp 250.000. Bank yang pintar, membebani nasabah dalam tiga kali perhitungan bunga.

Transaksi 1 Maret dikenakan bunga Rp 44.417 dan 5 Maret Rp 48.750. Sudah cukup? Belum.

Ternyata masih ada perhitungan bunga lain, yakni total tagihan dikurangi pembayaran minimum dikalikan bunga yang berlaku dan dikalikan 17/30 hari. Muncullah komponen bunga sisa pembayaran bulan lalu Rp 41.437.

Bunga Tinggi

Jadi, bila ditotal bunga yang harus dibayar nasabah untuk pokok bunga Rp 2,5 juta adalah Rp 134.605. Ini rupanya yang membuat bunga menjadi sedemikian besar, di samping karena bunga kartu kredit dari asalnya memang sudah dipatok tinggi.

Bunga kartu kredit BCA terhitung lebih murah dibandingkan dengan HSBC 3,5%, tetapi lebih mahal daripada Citibank 2,75%. Bila dihitung setahun, BCA mengenakan bunga 39%, sedangkan HSBC 48%.

Sebagai informasi, bunga dasar kredit komersial saat ini, berdasarkan data Pusat Informasi Pasar Uang, 13,94%.

Atas kasus Bastian, saya bingung menyebut jenis praktik bisnis kartu kredit ini. Namun, itulah yang terjadi selama puluhan tahun, dan saya khawatir banyak nasabah yang tidak memperhatikan detail perhitungan bunga mereka.

Saya kemudian bertanya kepada Dewan Eksekutif Asosiasi Kartu Kredit Indonesia, Dodit Probojakti, apakah perhitungan semacam ini cukup fair bagi para nasabah? “Saya kira bila penerbit telah memberikan penjelasan di awal dan mengikuti aturan yang ada, sudah cukup!”

Menurut dia, apa yang terjadi di lapangan adalah nasabah sering tidak memperhatikan konsekuensi-konsekuensi bila telat bayar atau hanya bayar minimum. “Mereka baru tahu bila tagihan ternyata besar. Sebab bunga kartu kredit memang tinggi, menyesuaikan karakter risikonya yang juga besar, karena tanpa agunan.”

Saat ini tidak kurang dari 11,56 juta kartu kredit beredar di Indonesia, diterbitkan oleh 20 bank dan 1 perusahaan pembiayaan. Volume transaksi juga tidak kecil, berada pada kisaran Rp 13 triliun per bulan.

Menurut Dodit, 70% dari nasabah memilih melakukan pembayaran dengan cara mencicil dan sisanya melunasi seluruh tagihan saat jatuh tempo. Bisa dibayangkan, berarti sekitar Rp 9 triliun tagihan kartu kredit setiap bulan kena bunga-taruhlah 3% sebesar Rp 270 miliar.

Sejumlah nasabah rata-rata tidak tahu bagaimana perhitungan bunga tagihan kartu kredit mereka. Kartu gesek ini setiap saat juga bisa menjadi perangkap, bagi para pemegangnya hingga hilang kendali.

Apa yang dialami Tari, 30, adalah salah satu contoh. Sang Ibu yang jatuh sakit, memaksa perempuan ini menguras seluruh tabungan. Tak cukup, dia pun menggesek dua kartu kredit HSBC hingga mencapai limit Rp 17,7 juta dan Rp 19,7 juta.

Situasi panik, membuat Tari tidak bisa berpikir jernih. Dia tidak memperhitungkan lagi bunga, apalagi melunasi tagihan secepatnya. Utang pun lalu membengkak menjadi Rp 52 juta. Tari mulai kelimpungan, dan hanya mampu membayar jumlah minimal.

Sampai kemudian dia dihubungi petugas penagihan HSBC, dan menawarkan ‘restrukturisasi’ dengan hanya membayar separuh alias Rp 26 juta. Ingin segera lepas dari utang dan juga ‘teror’ dari petugas penagihan, Tari mengambil tawaran itu.

Namun, sebulan kemudian tagihan tetap saja datang. Belakangan diketahui penerbit kartu kredit menyatakan tidak pernah menerima pembayaran. Petugas yang datang ke kantor Tari juga palsu. Setelah penipuan itu, urusan tagihan tak kunjung tuntas hingga kemarin.

Lain lagi dengan Agung Arief, 35. Dia mengaku tahu ada simulasi perhitungan bunga dan denda keterlambatan saat menerima kartu, tetapi tidak pernah memperhatikannya.

“Pertama tidak pernah diperhatiin, tahu-tahu bunganya nyekik banget. Makanya sekarang saya mulai melepaskan diri dari jebakan kartu kredit,” tutur desainer grafis yang mengaku mengantongi tiga kartu kredit ini.

Alat Bayar

Karena bunga yang mencekik pula, Joice, 36, memilih melunasi seluruh tagihan kartu kreditnya setiap bulan. “Saya selalu perhatiin, soalnya mencekik banget, rentenir zaman modern. Saya selalu bayar lunas untuk dua kartu Gold Citibank & HSBC.”

Namun, Joice tidak menampik kartu kredit banyak membantu menyelesaikan urusan finansialnya sehari-hari, seperti membayar tagihan hingga belanja bulanan. “Lagian saya sebel kalo pake duit cash, suka kurang kembaliannya, masak kembalian pake permen.”

Joice adalah tipe nasabah seperti Bastian, memilih menggunakan kartu kredit hanya untuk mengelola pembayaran dan memudahkan transaksi keuangan. Kecuali kejadian bulan lalu, Bastian selalu melunasi semua tagihan tanpa sisa.

Saya menceritakan kiat ini kepada Christopher Kustono, Card Sales & Marketing Division Head Bank Bumiputera. Menurut dia, tipe nasabah ‘bayar lunas’ inilah yang paling tidak disukai oleh penerbit kartu kredit.

Dia mengakui sumber pendapatan dari penerbit kartu adalah bunga dari tagihan yang tidak dilunasi sepenuhnya. Jadi, bila nasabah melunasi semua saat jatuh tempo, bank praktis tidak memperoleh apa-apa, selain dari iuran tahunan yang jumlahnya tidak seberapa besar.

Hal serupa juga dikatakan oleh Mira Wibowo, Senior Marketing Manager Credit Card BCA. Menurut dia, hasil bunga adalah penopang agar bisnis ini tetap jalan. “Sebab penerbit juga menanggung risiko penghapusan kredit yang tidak dibayar lebih besar.”

Sekarang, tinggal Anda pilih, mau menjadi nasabah yang tidak disukai penerbit kartu, atau menunda tagihan. “Kartu kredit adalah alat bayar, bukan alat utang,” tutur Joice menjelaskan alasan mengapa dia memilih yang pertama.
(hery.trianto@bisnis.co.id)

Ditulis oleh Hery Trianto, Wartawan Bisnis Indonesia. Dimuat di harian “Bisnis Indonesia”,
Rabu, 25 Maret 2009

Copas dari: e-pembayaran.com

 





brain entertainment, dapat membuat anda kehilangan hari anda?

25 09 2010

Mengejutkan, tapi itulah kenyataannya.

Dan kamu tidak menyadarinya sedikitpun.

Seberapa sering kamu berkata, hari ini kok cepat sekali berlalu ya…?

Padahal tadi seharian aku cuma maen game Command and Conquer Red Alert.. heran deh..

atau lhoh kok udah senin lagi, padahal kemarin baru saja aku melewati hari Senin.

Brain entertainment, adalah hal yang bisa kamu kambinghitamkan. Aku sendiri baru menyadarinya ketika hari-hariku sepulang kerja rasanya cepat sekali berlalu. Aku pulang ke kos2an, mandi, makan lalu menonton televisi. Habis itu aku browsing, buka facebook, buka twitter buka macem2 sampe bosen, dan baru nyadar kalau si kotak merah kecil bernama jam itu menunjuk angka 10 malam.

Whaa?

Cepat amat waktu berlalu, padahal tadi baru jam 7, aku menonton Onepiece di GlobalTV.

Dan besok, hal yang sama akan berulang lagi.

Dan besok, masih sama.

Wow, kalau begini caranya hidup gak akan berubah.

Pola hidup di jakarta seperti itu terus, kerja, pulang, istirahat, lupa waktu, tidur, lalu kerja, pulang dst….

Pola yang sangat teratur ini harus diubah. adalah caranya dengan melakukan brain entertainment dengan pendekatan positif. See, yang selama ini kita lakukan adalah brain entertainment dengan pendekatan negatif. Otak dibuai dengan hal-hal yang sangat menyenangkan sehingga kita lupa diri, melupakan sejenak dunia ini, kehilangan waktu dan kehilangan kesempatan untuk lebih sukses.

Kenyataannya memang lebih menyenangkan untuk menonton teve, atau bermain game strategi. Memang tiada duanya kesenangan itu (bagi kita2 yang suka lho). Persis seperti candu narkoba, atau miras yang membuat orang hilang kesadaran. Dan memang seperti itu. Kita kehilangan kesadaran, kita baru sadar setelah acara tv berakhir, setelah game kita menangkan. Jaman sekarang, memang tidak perlu alkohol, anggur, atau minuman yang memabukkan untuk membuat kita hilang kesadaran…

Tapi kenapa ya kok setiap mau mengerjakan sabetan (kerjaan sampingan) sehabis pulang kerja, rasanya mualess banget. Sekedar membuka autocad saja rasanya males.

Sekedar sedikit memeras otak saja rasanya males.

sekedar mengetik satu kata di word saja rasanya males.

This is karena lebih menyennangkan untuk menerima brain entertainment daripada mengerjakan kerjaan lain.

Seandainya, saja… kita menggunakan brain entertainment untuk mendukung pekerjaan sampingan kita sepulang kerja… Apa yang akan terjadi ya???

So how the way?





berhenti di tengah jalan

7 01 2010

Alkisah pada zaman Negara Berperang, di tepi sungai Huang Ho hiduplah seorang laki-laku bernama Yue Yang Zi. Untuk meningkatkan keahlianya ia berencana belajar ke luar kota. Setelah berpamitan kepada istrinya, berangkatah Yue Yang Zi untuk belajar pada seorang guru yang sangat terkenal pada zaman itu.

Tidak terasa setahun telah berlalu, pulanglah Yue Yang Zi ke rumah. Saat itu istrinya sedang menenun kain sutra. Dengan perasaan terkejut istrinya bertanya, “Kenapa kamu pulang, padahal baru setahun belajar?” Suaminya menjawab bahwa ia sangat rindu pada keluarganya. Istrinya kecewa karena suaminya pulang sebelum menyelesaikan pelajarannya. Untuk menyadarkan suaminya bahwa pekerjaan yang dilakukan setengah-setengah tidak ada hasilnya, ia mengambil kain sutra hasil tenunannya dan memotongnya di tengah-tengah. Lalu, katanya, “Coba kamu lihat! Kain ini tidak ada gunanya lagi. walaupun hasil pekerjaan besar ini telah melalui proses yang panjang: mulai dari ulat sutera, diolah menjadi benang, dipintal sedikit demi sedikit sampai akhrinya menjadi kain. Kalau kamu menyerah di tengah jalan bukankah itu sama dengan memotong kain sutra di tengah-tengah? Bukankah hasil kerja selama ini jadi sia-sia?”

Mendengar nasihat istrinya, Yue Yang Zi menjadi sadar bahwa ia telah menyia-nyiakan kesempatan belajarnya. Ia menyesal dan kembali melanjutkan pendidikannya di luar kota selama tujuh tahun. Setiap kali hampir putus asa, ia selalu teringat akan kata-kata istrinya. Akhirnya, ia dapat menyelesaikan pendidikannya dan menjadi orang yang berhasil.

———–

jadi rujukan:

Al Quran, surat: Alam Nasyrah :

7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain

8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap





10 Penyakit Manusia

6 01 2010

Artikel ini saya copas dari forumnya DeeDaad.com…

Ucapan terimakasih buat authornya, Deedad

Tahukah anda, kita sebagai manusia punya 10 penyakit yang sering kambuh? Inilah 10 penyakit manusia itu:

1. MENYALAHKAN ORANG LAIN

Itu penyakit P dan K, yaitu Primitif dan Kekanak-kanakan. Menyalahkan orang lain adalah pola pikir orang primitif. Di pedalaman Afrika, kalau ada orang yang sakit, yang Dipikirkan adalah: Siapa nih yang nyantet ? Selalu”siapa” Bukan”apa” penyebabnya. Bidang kedokteran modern selalu mencari tahu “apa” sebabnya, bukan “siapa”. Jadi kalau kita berpikir menyalahkan orang lain, itu sama dengan sikap primitif. Pakai koteka aja deh, nggak usah pakai dasi dan jas. Kekanak-kanakan. Kenapa ? Anak-anak selalu nggak pernah mau disalahkan. Kalau ada piring yang jatuh,” Adik tuh yang salah”, atau ” mbak tuh yang salah”. Anda pakai celana monyet aja kalau bersikap begitu. Kalau kita manusia yang berakal dan dewasa selalu akan mencari sebab terjadinya sesuatu.


2. MENYALAHKAN DIRI SENDIRI

Menyalahkan diri sendiri bahwa dirinya merasa tidak mampu. Anda pernah mengalaminya ? Kalau anda bilang tidak pernah, berarti anda bohong.”Ah, dia sih bisa, dia ahli, dia punya jabatan, dia berbakat dsb, Lha saya ini apa ?, wah saya nggak bisa deh. Dia S3, lha saya SMP, wah nggak bisa deh. Dia punya waktu banyak, saya sibuk, pasti nggak bisa deh”. Penyakit ini seperti kanker, tambah besar, besar di dalam mental diri sehingga bisa mencapai “improper guilty feeling”. Jadi walau yang salah partner, anak buah, atau bahkan atasan, berani bilang “Saya kok yang memang salah, tidak mampu dsb”. Penyakit ini pelan-pelan bisa membunuh kita. Merasa inferior, kita tidak punya kemampuan. Kita sering membandingkan keberhasilan orang lain dengan kekurangan kita, sehingga keberhasilan orang lain dianggap Wajar karena mereka punya sesuatu lebih yang kita tidak punya.
3. TIDAK PUNYA GOAL / CITA-CITA

Kita sering terpaku dengan kesibukan kerja, tetapi arahnya tidak jelas. Sebaiknya kita selalu mempunyai target kerja dengan milestone. Buat target jangka panjang dan jangka pendek secara tertulis. Ilustrasinya kayak gini: Ada anjing jago lari yang sombong. Apa sih yang nggak bisa saya kejar, kuda aja kalah sama saya. Kemudian ada kelinci lompat-lompat, kiclik, kiclik, kiclik. Temannya bilang: “Nah tuh ada kelinci, kejar aja”. Dia kejar itu kelinci, wesss…., kelinci lari lebih kencang, anjingnya ngotot ngejar dan kelinci lari sipat-kuping (sampai nggak dengar/peduli apa-apa), dan akhirnya nggak terkejar, kelinci masuk pagar. Anjing kembali lagi ke temannya dan diketawain. “Ah lu, katanya jago lari, sama kelinci aja nggak bisa kejar. Katanya lu paling kencang”. “Lha dia goalnya untuk tetap hidup sih, survive, lha gua goalnya untuk fun aja sih”. Kalau “GOAL” kita hanya untuk “FUN”, isi waktu aja, ya hasilnya cuma terengah-engah saja.

4. MEMPUNYAI “GOAL”, TAPI NGAWUR MENCAPAINYA

Biasanya dialami oleh orang yang tidak “teachable”. Goalnya salah, fokus kita juga salah, jalannya juga salah, arahnya juga salah. Ilustrasinya kayak gini : ada pemuda yang terobsesi dengan emas, karena pengaruh tradisi yang mendewakan emas. Pemuda ini pergi ke pertokoan dan mengisi karungnya dengan emas dan seenaknya ngeloyor pergi. Tentu saja ditangkap polisi dan ditanya. Jawabnya : Pokoknya saya mau emas, saya nggak mau lihat kiri-kanan.

5. MENGAMBIL JALAN PINTAS, SHORT CUT

Keberhasilan tidak pernah dilalui dengan jalan pintas. Jalan pintas tidak membawa orang ke kesuksesan yang sebenarnya, real success, karena tidak mengikuti proses. Kalau kita menghindari proses, ya nggak matang, kalaupun matang ya dikarbit. Jadi, tidak ada tuh jalan pintas. Pemain bulutangkis Indonesia bangun jam 5 pagi, lari keliling Senayan, melakukan smesh 1000 kali. Itu bukan jalan pintas. Nggak ada orang yang leha-leha tiap hari pakai sarung, terus tiba- tiba jadi juara bulu tangkis. Nggak ada ! Kalau anda disuruh taruh uang 1 juta, dalam 3 minggu jadi 3 juta, masuk akal nggak tuh ? Nggak mungkin !. Karena hal itu melawan kodrat.

6. MENGAMBIL JALAN TERLALU PANJANG, TERLALU SANTAI

Analoginya begini : Pesawat terbang untuk bisa take-off, harus mempunyai kecepatan minimum. Pesawat Boeing 737, untuk dapat take-off, memerlukan kecepatan minimum 300 km/jam. Kalau kecepatan dia cuma 50 km/jam, ya cuma ngabis-ngabisin avtur aja, muter-muter aja. Lha kalau jalannya, runwaynya lurus anda cuma pakai kecepatan 50 km/jam, ya nggak bisa take-off, malah nyungsep iya. Iya kan ?

7. MENGABAIKAN HAL-HAL YANG KECIL

Dia maunya yang besar-besar, yang heboh, tapi yang kecil-kecil nggak dikerjain. Dia lupa bahwa struktur bangunan yang besar, pasti ada komponen yang kecilnya. Maunya yang hebat aja. Mengabaikan hal kecil aja nggak boleh, apalagi mengabaikan orang kecil.

8. TERLALU CEPAT MENYERAH

Jangan berhenti kerja pada masa percobaan 3 bulan. Bukan mengawali dengan yang salah yang bikin orang gagal, tetapi berhenti pada tempat yang salah. Mengawali dengan salah bisa diperbaiki, tetapi berhenti di tempat yang salah repot sekali.

9. BAYANG-BAYANG MASA LALU

Wah puitis sekali, saya suka sekali dengan yang ini. Karena apa ? Kita selalu penuh memori kan? Apa yang kita lakukan, masuk memori kita, minimal sebagai pertimbangan kita untuk langkah kita berikutnya. Apalagi kalau kita pernah gagal, nggak berani untuk mencoba lagi. Ini bisa balik lagi ke penyakit nomer-3. Kegagalan sebagai akibat bayang-bayang masa lalu yang tidak terselesaikan dengan semestinya. Itu bayang-bayang negatif. Memori kita kadang- kadang sangat membatasi kita untuk maju ke depan. Kita kadang-kadang lupa bahwa hidup itu maju terus. “Waktu” itu maju kan? Ada nggak yang punya jam yang jalannya terbalik?? Nggak ada kan? Semuanya maju, hidup itu maju. Lari aja ke depan, kalaupun harus jatuh, pasti ke depan kok. Orang yang berhasil, pasti pernah gagal. Itu memori negatif yang menghalangi kesuksesan.

10. MENGHIPNOTIS DIRI DENGAN KESUKSESAN SEMU

Biasa disebut Pseudo Success Syndrome. Kita dihipnotis dengan itu. Kita kalau pernah berhasil dengan sukses kecil, terus berhenti, nggak kemana-mana lagi. Sudah puas dengan sukses kecil tersebut. Napoleon pernah menyatakan: “Saat yang paling berbahaya datang bersama dengan kemenangan yang besar”. Itu saat yang paling berbahaya, karena orang lengah, mabuk kemenangan. Jangan terjebak dengan goal-goal hasil yang kecil, karena kita akan menembak sasaran yang besar, goal yang jauh. Jangan berpuas diri, ntar jadi sombong, terus takabur.

Semoga bermanfaat





The Power of Iseng

15 12 2009

Heran, bener-bener heran dibuatnya…
Tadi pagi baru saja aku nyadar kalau selama ini aku salah.
Tadi pagi aku ngobrol sama temen sekantorku, Ari W. Kita nggak sengaja ngomongin gimana kisahnya dia dengan cewek2nya dulu…

Pernahkah terpikirkan kalau kita ngejar sesuatu dengan serius kebanyakan malah tidak berhasil atau memberikan hasil besar, tapi sebaliknya kalau kita ngejar ssesuatu dengan niat iseng malah sering berhasil?
Baca entri selengkapnya »





Beruntung atau tidak beruntung?

11 12 2009

Ada kisah yang menarik yang membuat saya mengubah pandangan hidup terhadap segala yang terjadi…

Kisah ini diilhami ketika saya menunggu datangnya customer di gerai telakrezz, yang pada dasarnya saya harapkan.. tapi sayang customer itu nggak datang-datang.
Saya memandang bahwa hari itu sungguh saya merasa kurang beruntung. Lokasi pilihan saya juga kurang baik…

Wuah pokoknya pandangan saya terhadap semua itu di hari itu sungguh semua adalah prasangka jelek…

Tiba-tiba saya teringat akan kisah ini.
Baca entri selengkapnya »





sebab-akibat….

31 10 2009

dalam essay of Compensation oleh Emerson, ia menjelaskan dikit hal tentang sebab-akibat. Tapi tahu nggak, aku nggak akan menjelaskan hal serumit itu di blog ku ini.

Gila aja, teks penuh dengan filosofi macam itu mana mungkin bisa dengan mudah dicerna… Aku dulu aja merasa aneh membaca essay Emerson itu.

Biarkan aku menceritakan kisah menarik biar lebih mudah mencernanya. Siap ikutin ya…

Baca entri selengkapnya »