makanan hanyalah untuk meredakan lapar

18 08 2009

Kala itu di sebuah propinsi yang makmur di China kuno, terjadilah kehebohan di antara para pejabat yang mengurusi administrasi pemerintahan. Seorang pejabat baru yang menjabat sebagai petugas pemerintahan saat itu memiliki kegemaran yang berlebihan pada makanan. Pejabat ini menginginkan persembahan makanan yang luar biasa ketika datangnya waktu makan. Baik itu sarapan, makan siang, makan malam, ataupun dimana ada pesta yang dia datangi dia selalu meminta makanan yang mewah.

Sebelumnya tidak ada yang tahu selera pejabat ini. Banyak petugas pemerintahan yang kadang kebingungan menyajikan makanan untuk pejabat ini. Mereka sering merasa ketakutan ketika pejabat ini marah-marah terhadap soal makanan yang disajikan tanpa sajian luar biasa.

Banyak orang yang mengeluhkan standar tinggi pejabat baru ini. Bahkan petugas-petugas pemerintahan lain tidak berani menegur pejabat ini dikarenakan posisinya yang tinggi. Selain itu, ia juga memiliki hubungan dekat dengan pejabat-pejabat kementrian di kekaisaran. Inilah yang menyebabkan pejabat lain tidak berani bersikap tegas di depannya.

Sebenarnya pejabat baru ini orang baik, namun terkadang dia berlebihan dalam beberapa hal.

Baca entri selengkapnya »

Iklan




Bisnis Plan Amburadul

17 08 2009

Alkisah hiduplah seorang pria di propinsi Lu di negara China yang ahli dalam membuat sandal dari bahan rami. Ia memiliki istri yang juga ahli dalam merajut kain sutera. Mereka berencana pindah ke propinsi Yue di China bagian Selatan.

“Kamu akan hidup di jalanan,” kata seorang teman pada pria tersebut.

“Mengapa?” tanya pria dari propinsi Lu.

Baca entri selengkapnya »





Kearifan Emas – Episode Batu Lalat

17 08 2009
Pagi itu, aku berjalan menuju sebuah pasar di Mesir. Dari jauh aku melihat seorang pedagang batu-batuan sedang menawarkan batu-batu yang dijualnya.
“Biarlah aku sendiri yang mendekati penjual batu itu, kalian agak menjauhlah sedikit”
“Barangkali di sana ada batu yang aku cari. Aku takut kalau dia tidak mau menjualnya begitu melihat kalian mengawalku.” Kataku ke beberapa orang yang mengiringiku dari tadi.

Aku mendekat menuju pedagang itu, kulihat sekilas disana beberapa macam batu. Siapa tahu, di sana ada batu indah yang sedap dipandang mata yang punya khasiat khusus yang selama bertahun-tahun aku cari.

“Silahkan melihat-lihat batu-batu saya” kata pedagang itu.
Aku meneliti satu per satu batu-batu yang dipajangnya. Tak kusangka aku menemukan batu itu. Akhirnya, tugas yang dibebankan kepadaku dapat diselesaikan hari ini.
“Tuan berapakah harga batu ini”. Aku menunjuk batu itu dan melihat bapak yang menjualnya.
“Satu dirham” katanya
“Satu dirham tuan? Apakah tuan tidak terlalu murah menjualnya?” Aku heran dengan penjual batu ini, sehingga aku tidak sengaja mengatakan batu itu terlalu murah.
“Anak muda, kamu ini bagaimana, saya menjualnya 1 dirham masih dianggap murah? Baiklah, buat kamu, cukup 5 dirham saja…” jawab penjual batu itu
“Apakah anda yakin tuan anda menjualnya segitu murahnya?”tanyaku
“Ya… ayo lekas bayar… kalau tidak saya tidak akan menjualnya” katanya dengan mengancam
“baik… baik…Ini tuan”, kataku terburu-buru sambil menyerahkan 5 keping dirham kepada penjual batu. Aku tersenyum-senyum sambil melihat batu itu yang akhirnya berpindah ke tanganku.
“Terimakasih tuan telah menjualnya kepada saya…” aku memasukkan batu itu ke dalam kantongku.

Sewaktu aku beranjak pergi dari tempat itu, kudengar sesuatu….

“hahaha. Teman-temanku lihatlah pemuda ini, dia begitu pandirnya” kata pedagang itu dengan keras. Otomatis aku menengok ke arahnya dan menghentikan langkahku.





bahkan pencuri pun punya prinsip untuk diikuti…

17 08 2009

bahkan pencuri pun punya prinsip untuk diikuti…

Ketika zaman pemerintahan Kaisar Qianlong (1711-1799 A.D) pada masa dinasti Qing (Chin) di era China kuno, hiduplah seorang hakim kabupaten Chongde (disebut Kabupaten Shimen di masa kuno) di propinsi Zhejiang yang bernama Zhang Qing. Dia memiliki latar belakang pendidkan dan sangat pintar dalam ilmu pengetahuan. Ketika menjabat, dia menjabat apa adanya dan jujur, sehingga reputasinya sangat bagus. Dia membawa kabupaten itu dalam tatanan yang baik hanya dalam beberapa tahun dia ada di sana, dan rakyat di daerah itu memiliki standar moral yang tinggi sehingga tidak ada keluarga yang perlu mengunci pintu mereka di waktu malam.

Pada masa itu, pencurian sering terjadi di kabupaten terdekat, dan rakyat menjadi ketakutan. Zhang Qing kemudian ditugaskan ke kabupaten terdekat itu menjadi hakim untuk mengendalikan situasi. Zhang Qing pergi ke sana sendirian. Ada pepatah Cina mengatakan, “Sapu baru membersihkan dengan bersih”, dan Zhang Qing menerapkan aturan yang ketat. Anehnya, seketika Zhang Qing menjabat, para pencuri tidak nampak lagi. Tidak ada pencurian terjadi lagi, dan seluruh kabupaten menjadi damai dan harmonis.

Beberapa bulan kemudian, Zhang Qing hidup bersama keluarganya. Setelah masa jabatan tiga tahun selesai, Zhang Qing menyewa sebuah kapal dan akan kembali ke kota asalnya bersama keluarganya. Rakyat mengantarnya di dermaga untuk melihatnya pergi. Setelah mengatakan selamat tinggal ke ramainya orang-orang yang mengantarnya, Zhang Qing merasa seseorang lewat di depannya, tiba-tiba kacamatanya hilang.

Zhang Qing terkejut dan hampir jatuh ke sungai, tapi dia sempat diselamatkan oleh petugas kapal yang cukup cepat meraihnya pada waktunya.

Zhang Qing sungguh kebingungan oleh lenyapnya kacamatanya.

Kacamata itu menurutnya tidak bernilai jika dicuri, tapi jika memang jatuh ke sungai, bagaimana mungkin itu terjadi sebab ia tidak melihat riak gelombang air atau percikan air?

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan merenung. Untungnya dia masih memiliki sepasang kacamata di koper bawaanya, jadi dia melambaikan tangan dan menyuruh petugas kapal untuk berlayar.

Malam itu, kapalnya merapat di sebuah kota kecil perbatasan kabupaten terdekat. Pagi harinya, Zhang Qing tidak melihat sepuluh peti kayu miliknya. Barang-barang di dalam peti itu adalah seluruh aset Zhang Qing. Dia terkagum-kagum, dan berpikir, “Sungguh berani pencuri itu datang sedangkan saya berada tidak jauh dan mereka mencuri dari saya. Sungguh tidak menyenangkan! Ini semakin menunjukkan kalau mereka juga mencuri sepasang kacamataku kemarin.”

Apa yang kemudian ia lakukan?

Zhang Qing merenung sejenak. “Para pencuri itu pasti sudah melarikan diri. Dimana saya bisa menemukan mereka? Aduh, biarlah ini saya anggap kesialan” Dia mendesah dengan penyesalan mendalam, dan memerintahkan petugas kapal untuk melanjutkan perjalanan.

Tiga hari kemudian, kapal tersebut sudah membawa Zhang Qing sampai ke kota kelahirannya dengan selamat.

Dari kejauhan, Zhang Qing melihat sepuluh peti kayu besar yang nampak familiar dengannya. Peti itu tertata rapi di dermaga. Dia merasa sangat aneh dan segera beranjak dari kapal secepatnya. Lantas dia pergi untuk memeriksanya.

Memang benar, kesepuluh peti kayu itu memang miliknya, sungguh peruntungan yang baik!

Sebuah surat tergeletak di atas salah satu dari peti-peti itu, di atas surat itu adalah sepasang kacamata milik Zhang Qing yang hilang.

Zhang Qing sangat terkejut. Dia membuka surat itu dengan cepat dan membacanya,

“Tuang Zhang yang terhormat:

Kami adalah sekelompok pencuri. Ketika masa jabatan anda di kantor, kami mengagumi reputasi anda yang menjabat dengan jujur dan adil, jadi kami tidak pernah melakukan pencurian di kabupaten anda. Bagaimanapun juga, setelah melihat anda membawa sepuluh peti kayu besar ketika anda meninggalkan kantor anda, kami tidak bisa menahan rasa curiga kami terhadap kejujuran anda. Maka kami memutuskan untuk mencuri kacamata anda sebelum mencuri peti kayu anda untuk memberikan peringatan kepada anda. Namun, kami telah melihat seluruh isi peti kayu anda, namun yang kami temukan hanyalah buku, yang nilainya tidak ada sampai 30 koin perak.

Ada pepatah mengatakan, ‘Setelah masa jabatan hakim, bahkan hakim yang jujur pun akan menghasilkan 10.000 perak.’ Tapi anda sampai saat ini anda masih tidak memiliki perak sebanyak itu setelah menjabat sebagai hakim kabupaten untuk waktu yang lama. Ini menunjukkan kalau anda adalah pejabat yang jujur dan rakyat melihat anda sebagai orang yang baik. Kami meminta maaf atas upaya kami. Untuk itu, kami mengembalikan semua barang-barang yang telah kami curi dan memohon pengampunan anda.”

Zhang Qing mendesah emosional, dan tiba-tiba berkata, “Aduh! Benar, bahkan pencuri pun punya prinsip untuk diikuti!”

Orang-orang jaman dulu memiliki standar moral yang tinggi. Nilai-nilai universal ketika mempercayai surga dan Tuhan serta membedakan antara yang baik dari yang jahat ada di dalam hati orang-orang. Orang jahat pun memiliki standar dan hati nurani ketika melakukan perbuatan yang salah. Terhadap orang yang penuh kebaikan atau pejabat yang jujur, bahkan pencuri pun tidak berani mengganggu mereka.

Diterjemahkan bebas dari clearharmony.net/articles/200706/39888.html,
translator: P Suryananda





Kearifan Emas – Episode Cincin Emas

17 08 2009

Kearifan Emas –  Episode Cincin Kusam

Diceritakan kembali oleh P Suryananda dengan sudut pandang berbeda. Semoga dapat memberi pencerahan.

Brakkk..
“aduh sakit…”
“pak, maafkan saya… saya Cuma mau meyakinkan apakah bapak mau membeli cincin ini seharga 1 dinar atau tidak” kataku memelas.
“saya tidak tahu kalau sampai begini jadinya” aku tertatih-tatih berdiri…

“salah kamu, saya sudah berkali-kali mengatakan saya tidak sedang ingin diganggu” kata bapak pedagang sayur dengan marah.
“saya sedang melayani pembeli, tapi kenapa kamu tetap saja ngeyel ingin menawarkan cincin itu… apalagi seharga 1 dinar!!”
“bahkan cincin itu tak akan mau kubeli dengan harga 1 keping dirham pun..”
“ya 1 keping perak pun tidak akan mau kutukarkan dengan cincin itu…”
“kalau kau mau kau boleh menukarnya dengan makanan ini” katanya sambil menunjuk ke keranjangnya

“maaf pak, saya tidak bisa. Tuan Zun Nun meminta saya untuk menawarkan cincin ini seharga satu dinar…”kataku lagi.

“oh katakan pada tuan mu itu, tidak mungkin, dan aku tidak akan mau membelinya” kata bapak pedagang sayur itu. “sudah pergi sana!”

“baik pak, saya permisi dahulu” kataku mengakhiri sambil pergi.

Aneh. Sudah beberapa pedagang di pasar ini yang aku tanyai apakah mereka mau membeli cincin ini seharga 1 dinar. Tapi benar benar tidak ada satupun dari mereka yang mau membelinya. Benar juga, 1 dinar emas terlampau mahal untuk cincin ini. Apakah tuan zun nun tidak salah taksir.

Kenapa juga aku tadi disuruh menjual cincin ini ke para pedagang ini, padahal satu jam tadi aku baru saja singgah ke kediamannya dan tanpa sengaja aku mempertanyakan penampilannya. Tidak kusangka hanya menanyakan mengapa beliau berpakaian sederhana, yang menurutku di zaman ini, penampilan dianggap segalanya malah membuatku sampai dimarahi oleh pedagang sayur itu.

Ah tuan Zun Nun memang sufi yang eksentrik…
Pasti ada sesuatu di balik ini.

Lebih baik aku kembali saja kepadanya, seperti yang dia katakan, kalau aku tidak sukses aku disuruh kembali.

“Guru, tak seorangpun berani menawar lebih dari 1 keping dirham” kataku
“Saya sudah ke pedangang sayur, ikan dan daging…” aku menjelaskan
“bahkan beberapa dari mereka malah menukarnya dengan membelikanku makanan”

Zun Nun, sambil tersenyum arif berkata dengan menatapku, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian”

Segera saja aku menuju ke toko emas yang dimaksud oleh guru zun nun.
Disana kudapati seorang bapak yang sedang menunggu pembeli. Tampakanya dia begitu senang ketika aku menuju ke tokonya.

“Assalamualaikum anak muda” kata bapak yang berada di toko emas itu.

“Wa’alaikumussalam bapak… ehm, saya ingin memperlihatkan bapak sesuatu”kataku
“tadi saya disuruh oleh guru saya ke sini untuk memperlihatkan ini ke bapak” aku menyodorkan cincin kusam itu ke bapak tersebut.
“saya ingin tahu pendapat bapak tentang cincin ini” kataku meneruskan…

“sebentar ya nak, saya lihat dulu” kata bapak tersebut sambil mengambil timbangan dan sebuah kaca pembesar. Sejenak dia diam dan tiba-tiba…
“Demi Allah, Sang Raja Yang Maha Pemurah…”
“darimana tuanmu mendapat cincin ini nak?” katanya terkejut.

“itu… saya tidak tahu pak, memangnya ada apa dengan cincin itu pak?”jawabku terbata-bata…

“saya sulit menjelaskannya nak, tapi yang pasti saya bersedia membeli cincin ini jika gurumu bersedia menjualnya. Sampaikan kepada gurumu, saya menawar 1000 dinar untuk cincin ini, nak” kata bapak itu.

“demi Allah Yang Maha Tinggi!” kataku terkejut
“sungguh, hari ini sungguh hari yang aneh… bapak tidak salah menawar harga untuk cincin ini?”tanyaku meyakinkan apa yang baru aku dengar.

“tidak nak, harap sampaikan kepada gurumu jika beliau bersedia menjualnya, akan saya beli…” kata bapak itu lagi menegaskan.

“baik pak”, kataku.
“kalau begitu, saya permisi dulu pak”

bergegas aku kembali ke kediaman guru Zun Nun… aku tak habis pikir… bagaimana bisa ini terjadi. Dua kejadian bertolak belakang terjadi di hari ini… yang membuatku tak habis pikir…

“Guru, rupanya para pedagang pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya cincin ini berlipat-lipat lebih tinggi daripada yang ditawar para pedagang di pasar”

Guru Zun Nun tersenyum simpul sambil berujar…
“Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi anak muda. Seseorang tidak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya ‘para pedangang sayur, ikan dan daging di pasar’ yang menilai demikian. Namun tidak bagi ‘pedagang emas’”

“emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses, wahai anak muda. Kita tidak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang, dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas”

Aku pun manggut-manggut mendengar penjelasan guru zun nun. Dan mengambil hikmah dari kisah yang kualami hari ini.